Jangan pergi
Aku menyesal, sangat menyesali semua. Sungguh, aku sedih selalu memikirkan semua ini. Masalah yang tak kunjung selesai, masalah yang selalu menghantuiku setiap hariku. Rasanya ingin kembali ke masa dimana aku masih terbebas dari masalah ini. Sangatlah berat untuk menghadapi ini. Sore hari aku ditinggalkannya, air mataku bahkan tak sanggup untuk tidak menetes. Hati ini rasanya teriris perih yang sangat dalam, penyesalan selalu datang dikala cobaan ini datang. Ya Allah apakah aku akan tegar menghadapi semua ini?
Pertanyaan yang selalu aku tanyakan di lubuk hati ku yang paling dalam, apa yang terjadio jika kamu pergi? aku pasti akan kesepian, tolong tetaplah disini, isi hari-hariku dengan tawamu. Dengan semua itu di malam yang sangat tenang aku bersujud kepada-Nya. Ya Allah, ini kah jalan terbaik bagiku? kau ambil orang aku sayangi? Sungguh, aku belum sepenuhnya membahagiakannya, aku masih belum memberikan bimbingan yang baik padanya, mengapa kau ambil dia secepat itu.. Benar air mata bahkan tak pernah habis untuk memanjatkan doa untuk adik ku tersayang.
25 Desember tepat hari Natal untuk umat Kritiani di seluruh dunia, aku sangatlah senang waktu itu. Aku bisa bangun tidur siang, main bersama teman sepuasnya. Ya, aku baru menginjak kelas 1 SD, belum terlalu memperhatikan waktu, memperhatikan betapa berharganya waktu. Siang pukul 13:00 kakaku memberitahuku segera, sebuah kabar menyangkut di hati, tak aku ketahui apa tanda ini. Kabar bahwa adikku di larikan kerumah sakit di Jepara, aku lemas sekali. Sungguh, itulah pertama kalinya saudara kandungku di bawa kerumah sakit dalam keadaan yang serius, kakakku tidak pernah di rawat di rumah sakit setahuku.
Bukan untuk menangisi kesakitan yang adikku rasakan, aku hanya memikirkan satu. Aku sangat ingin bertemu adikku, sungguh benar. Hati ku sangat miris, tak pernah untuk berpikir negatif. Sepaket mobil-mobilan truck yang aku dan kakakku belikan. Selagi di bungkuskan kertas kado bergambarkan mobil kartun Cars, kesukaannya. Aku melihat keuletan kakakku saat membungkus mobil itu, aku masih belum bisa membungkus kado. Aku melihatnya menggunting isolasi, menempelkannya, memotongnya, lalu dihiasnya oleh pita yang sangat besar, sampai menutupi bagian tengah. Tin-tin, tanda Abah sudah menjemput dari Jepara untuk menengok adikku.
Tapi sesal... aku sangat kesal... mengapa lama sekali menjemput ku tadi?. aku sudah sampai di Rumah Sakit, aku berjalan menyusuri lorong kamar-kamar yang penuh kunjungan orang yang menengok saudaranya. Ini pukul 14:00, aku bercanda, bermain, sambil menahan air mata melihat adikku yang di tangannya terlilitkan infus. Air mataku terjaga karena senyum dari mu dek, aku bahagia sekali masih bisa merasakan jam-jam yang hanya sedikit bersamamu.
Hari makin sore, adikku sudah terjaga di tidurnya dari jam 15:00. Aku melihatnya menahan tangisan saat di suntik tangannya, bahkan aku tak berani untuk melihat dia waktu itu. Banyak keluarga-saudaraku yang datang, namun waktu itu hanya keluarga semarang yang aku lihat.
Tepat aku lihat pukul 16:30 yang aku lihat jam yang selalu kupakai di tangan ku. Tak kudengar tangisan Feno yang sangat aku rindukan waktu itu. Tapi apalah? Yang kudenga hanyalah tangisan ibuku yang kian tak terhenti. Aku bertanya, mengapa aku tak boleh masuk ke kamar? kenapa? katakan!. Aku selalu di tenangkan oleh budheku yang tepat di sampingku. Abah yang setiap hari selalu menjadi perbincanganku bersama Feno terlihat sangat rapuh. Sungguh benar aku tak tahu apa-apa saat itu. Aku tak tau, mengapa semua menangis? apakah Feno terluka? Teriakan ibuk ku membuka hati ku. Aku tak sanggup mendengarnya, jeritan yang sangat keras. "MASIH BISA KAN DOK? MASIH KAN DOK?" teriakan yang sama selalu di ucapnya.
Aku mulai mengerti saat Feno dibawanya keluar. Terpasang selang, kabel, oksigen disamping nya yang benar aku sangat takut. Ibukku terus memegangi tangan Feno seakan tak ingin melepasnya pergi. Aku hanya diam, kulihat tulisan yang sangat besar terlihat jelas, aku memang belum lancar untuk membaca. Namun aku masih bisa mengejanya. "I-C-U" ku eja tulisan itu dengan sangat polosnya. Kakakku hanya menangis, aku tak tau apa itu. Aku bingung dengan semua. Aku liat Feno di tempatkan di tempat kaca yang sangat kecil. Aku takut sekali, aku takboleh masuk kesana. Kata suster disitu tempat bahaya. Aku semakin takut mendengar itu. Ya Allah apa ini, Aku hanya bermain kurang dari 1 jam bersamanya, tangisan terakhirnya pun aku tak mendengarkan. Ya Allah, aku tau sekarang, adikku sedang tidak sehatkan? tapi akan sehat kembali kan? aku tau itu Ya Allah, aku tahu.
Buku hijau kecil yang di berikan kakakku, membuat ku tambah tak kuat dengan semua. Semua sudah mulai untuk melantunkan ayat-ayat Yassin di luar ruang ICU. Jujur, aku gak kuat untuk menahan air mata saat membaca Yassin. Sampai akhirnya aku dengar adikku di rekomendasikan untuk berobat ke semarang. Yang aku pikirkan "Asik, berarti bisa ke paragon". Apa yang aku pikirkan saat itu aku sangatlah tidak peduli.
Sepupuku dari semarang terus memberiku semangat. Sampai komputer kecil di dalam ruang ICU memberikan tanda garis lurus tak ada gelombang yang berjalan. Yang aku tahu itu adalah bertanda buruk, Ya Allah benarkah apa yang aku pikirkan ini? Kau ambil adikku? Sekarang? Benarkah ini? Aku mengangis tak pernah berhenti sampai aku tertidur.
Aku terbanggun, kulihat adikku di pangku oleh ibukku yang penuh kasih sayang. "Liat deh mbak Poo, aku udah gede ya.. Besok main lagi ya mbak Poo" aku mendengar kata-kata itu seaakan mengiris hatiku. Alasan ibuku tidak memakai ambulance untuk bisa berbicara pada adikku untuk terkahir. Ibukku terus tersenyum menahan tangis di depanku, selalu menganggap Feno masih bernafas lancar. Yang aku lihat tepat disamping ku, Feno sudah kaku. Bibir pucat. Aku tak pernah menyangka, ini terakhir mendekap Feno erat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar